Rabu, 05 Desember 2012

"Quo Vadis” Negara Pancasila?

Oleh: Dr. Karel Phil Erari

“Sebuah disintegrasi akan terjadi cepat atau lambat, jika negara absen dan lalai dalam menjamin keamanan bagi umat Kristen."

Peristiwa penyegelan tempat ibadat jemaat HKBP Ciketing Asem Bekasi, Jawa Barat, atas dasar surat Wali Kota Bekasi telah mengusik rasa solidaritas umat Kristen Manokwari, Provinsi Papua Barat. Di bawah pimpinan Pdt Wanma dan Pdt Marin suatu kelompok dengan nama Forum Solidaritas Umat Kristen Manokwari Peduli HKBP mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Papua Barat, menggugat pemerintah yang telah membiarkan umat Kristen, warga HKBP teraniaya oleh sekelompok warga yang mengatasnamakan agama tertentu.

Pdt Wanma dalam orasinya di depan kantor DPRD Papua Barat, yang kemudian dilanjutkan di dalam ruang sidang, atas undangan pimpinan DPRD Papua Barat menyatakan dengan nada penuh wibawa dan profetis, bahwa Pemerintah telah mendemonstrasikan ketidakmampuan menjaga kebebasan beribadah, seperti yang dijamin oleh UUD 45 Pasal 29. Menurutnya, seorang Wali Kota yang melarang ibadah dari suatu kelompok umat beragama yang dijamin oleh konstitusi negeri ini, telah melanggar Konstitusi dan serentak melanggar sumpah jabatannya, dan karena itu patut di proses secara hukum.

Pemerintah tak bisa lagi berdiam diri dan membiarkan aparat penyelenggara negara memelintir PBM No 8 dan 9 Tahun 2006, berdasarkan interest kelompok dan individu tertentu. Negeri ini tidak akan kiamat jika umat Kristen beribadah di tempat yang dianggap “sensitif” oleh siapa pun. Karena dalam suatu negara Pancasila, setiap jengkal tanah adalah tanah Pancasila yang bebas dan terbuka untuk menjadi tempat beribadah. Dari Sabang, Provinsi Aceh, sampai Merauke Provinsi Papua, adalah Tanah Pancasila. Karena itulah, jika di sebuah lahan di kawasan Ciketing, terjadi larangan dan penyegelan atas tempat beribadah umat Kristen, maka kita patut bertanya: Quo vadis negara Pancasila?

Pelanggaran Deklarasi Universal

Konflik jemaat HKBP dan warga Bekasi yang telah menelan korban seorang Pendeta Perempuan, Luspida Simanjuntak dan Sintua Hasian Sihombing tanggal 12 September 2010, mencerminkan betapa umat Kristen tidak lagi bisa mempertahankan hak fundamentalnya di negeri ini. HKBP sebagai jemaat Kristen, merupakan representasi umat Kristen di Indonesia, dan sesuai dengan citra Gereja sebagai Tubuh Kristus, maka bilamana ada satu anggota menderita dan sakit, maka seluruh tubuh pasti menderita dan mengalami kesakitan. Prinsip kesatuan Tubuh Kristus itulah yang mendorong warga Kristen Manokwari, bersatu dan berdiri di belakang jemaat HKBP untuk mendesak Pemerintah Pusat tidak berdiam diri atau “pura pura tidak tahu”.

Drama pengawalan yang luar oleh 700 personil aparat Polisi dan Satpol PP pada ibadah 19 September dan yang berakhir pada batalnya ibdah, sama saja dengan menghentikan shalat umat Muslim di hari Jumaat oleh aparat keamanan. Praktik seperti itu menggambarkan betapa kerdilnya para penegak hukum dan penguasa lokal memahami jiwa Pancasila dan semangat pluralisme bangsa Indonesia. Lebih jauh dapat dikatakan bahwa tindakan pembatalan pelaksanaan ibadah adalah refleksi dari pembenaran diri sendiri dan menganggap pihak lain tidak berhak menjalankan haknya yang paling primer.

Menjalankan ibadah adalah hak asasi setiap manusia seperti yang dijamin oleh Deklarasi Universal PBB tentang kebebasan berekspresi. Kelompok yang bertindak atas nama agama tertentu melakukan pelarangan beribadah dan yang menyebabkan penyegelan suatu tempat beribadah, telah melanggar prinsip dari Deklarasi Universal PBB tentang kebebasan berekspresi. Di saat yang sama kelompok ini telah mengkhianati Pancasila yang menjamin kebebasan dalam menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan yang dianut.

Artikel ini saya siapkan sebagai suatu pertanggung jawaban theologis, dan merupakan bagian dari aspirasi umat Kristen di Papua, bahwa peristiwa Bekasi, telah menjadi masalah bersama umat Kristen Indonesia, termasuk masalah teologis bagi umat Kristen di Papua.

Aset Indonesia

Sebagai umat Kristen dari Papua, kami telah mengikuti secara cermat dan penuh keprihatinan begitu banyak gereja yang dibakar dan dirusak dan umatnya, termasuk para pendetanya terbunuh karena mempertahankan imannya. Ada seorang pendeta yang ditembak di atas mimbar saat memimpin ibadah di Palu. Ada keluarga pendeta yang dibakar dalam rumahnya. Ada pendeta yang dianiaya seperti yang terjadi di Bekasi.

Daftar ini masih panjang, namun hal yang hendak disampaikan bahwa penderitaan dan kesulitan yang dialami oleh gereja dan umat Kristen di Indonesia telah mengundang suatu pertanyaan besar, apakah negeri ini masih berbasis Pancasila? Negara Papua New Guinea dengan konstitusinya sebagai negara Kristen tidak melarang pembangunan masjid di ibu kota Port Moresby. Malaysia dengan konstitusinya sebagai negara Islam, tidak membakar gereja dan menista para pendeta.

Di awal integrasi Papua ke dalam Indonesia, pihak Belanda menyebar propaganda bahwa kalau orang Papua masuk Indonesia, pasti akan menjadi Islam dan disunat. Akan menderita dan miskin. Seorang Pimpinan Gereja, Pdt FJS Rumainum dalam Sidang Raya Dewan Gereja se Dunia 1963, di New Delhi India menyatakan bahwa Gereja Kristen Injili di New Guinea (nama ketika itu) adalah bagian dari Dewan Gereja Indonesia.

Suatu pernyataan profetis telah diucapkan oleh Pdt Rumainum. Ia mempertanggung jawabkan pernyataan tadi dengan mengatakan bahwa gereja dan umat Kristen di Indonesia, adalah dasar dan motivasi Iman dan Injil bagi orang Papua masuk menjadi bagian dari Indonesia. Kendati pernyataan ini mengundang kontroversi pro kontra namun eksistensi gereja dan umat Kristen Indonesia, menjadi dasar dukungan gereja di Tanah Papua untuk menjadi anggota Dewan Gereja Indonesia (kini Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia).

Seorang Ketua DPRD Papua Barat, Demianus Jimmy Iji dalam talkshow 20 September di Jakarta mengatakan : Pemerintah dan Negara telah mengkhianati perjuangan Founding Fathers kita yang telah menghapus 7 kata dari Piagam Jakarta demi suatu NKRI. Orang Papua sudah nyaman di Indonesia karena ada sesama orang Kristen di Batak, Jawa, Kalimantan. Sulawesi, Timor dan Ambon. Tetapi, kalau orang Kristen di Papua terusik dan tidak nyaman karena sesama umat Kristen tidak ada tempat lagi untuk beribadah, maka proses integrasi bangsa ini akan terganggu. Sebuah disintegrasi akan terjadi cepat atau lambat, jika negara absen dan lalai dalam menjamin keamanan bagi umat Kristen.

PBM Dicabut

Baik Islam maupun Kristen sama-sama memiliki semangat dan jiwa Dakwah atau Pekabaran Injil. Karena itu setiap bentuk peraturan atau UU yang mengatur hal ikhwal beribadah, dapat ditafsirkan sebagai larangan dalam bentuk yang halus terhadap agama tertentu. Jiwa PBM No 8/9 2006 menurut hemat saya adalah suatu regulasi terselubung untuk membatasi semangat Pekabaran Injil dari umat Kristen. Setiap orang Kristen yang tidak mengabarkan Injil bukan orang Kristen. Karena itu melarang jemaat HKBP untuk beribadah sama saja dengan membunuh suatu karakter dasar orang Kristen. Hal yang sama terjadi dengan semangat Dakwah atau 5 kali shalat bagi umat Islam.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa negara yang terlibat secara hukum dalam membatasi bahkan melarang umat untuk beribadah, baik HKBP atau GKI dan gereja manapun juga di Indonesia, telah memasuki ranah iman dan Kaidah Agama yang sangat fundamental. Ibadah adalah harga mati bagi umat Kristen. Sehingga dapat dipahami ketika jemaat HKBP memilih untuk beribadah di tempat semula, kendati dilarang dan bangunan tempat ibadahnya disegel. Solusi yang perlu diambil secara berani dan bertanggung jawab ialah PBM 8/9 2006 dicabut, demi masa depan baru bagi Indonesia, khususnya agar relasi Islam dan Kristen menjadi normal seperti ketika Prof Mukti Ali menjadi Menteri Agama RI. Semoga adalah harapan. (Sumber: Suara Pembaruan, 27 September 2010).

Archive Penulis:
  1. Daerah Harus Diberi Kewenangan Besar 
  2. Warna Sari Workshop Ekoteologi
  3. Papua desak Jakarta selesaikan kasus kekerasan
  4. Papua di Persimpangan Jalan
  5. Pendeta Phil Erari: Buka Dialog dengan Rakyat Papua
  6. Menyeberanglah kemari dan tolonglah kitorang di bumi Papua!
  7. Ide Separatis Akar Persoalan'
  8. KTT International Lawyers on Papua, 2 Agustus 2011 
  9. Pdt. Karel Phil Erari : Jakarta Banyak Melecehkan Hak-Hak Dasar Orang Asli Papua 
  10. Koentjaraningrat Memorial Lecture VIII
  11. Pemerintah Tak Serius Tangani Papua Ubah Kebijakan Pengelolaan SDA
  12. Gubernur Tolak Surat Mendagri 
  13. Dua organisasi kristen MUKI dan PGI menghimbau untuk sidang penodaan agama disudahi 
  14. Salah Interpretasi, Jerat Pdt. Hadassah Werner ke Pengadilan 
  15. Inside the Special Autonomy Bill
  16. Tokoh Adat & Lintas Agama Minta SBY Jewer Bhatoegana
  17. Indonesia : Communal Tension In Papua
  18. A history of Christianity in Indonesia - Page 817 - Google Books Result
  19. Founder
  20. BUKU 2007 - Blogsome 
  21. The Abduction And Assassination Of Theys Hiyo Eluay Was Premeditated And Politically Motivated 
  22. Papuans call for start of special autonomy 
  23. Ketidakadilan dan Kepalsuan Sejarah Integrasi Papua ke D... 
  24. Minister of Defense: Wahid Gave No Order To Release Theys
  25. Dari perspektif Saksi Ahli : Para Pendakwa sebenarnya merekalah yang menodai kekristenan itu
  26. Apa itu teologi?: pengantar ke dalam ilmu teologi - Page 137
  27. JK Diminta Jadi Mediator Dialog Papua-Jakarta
  28. Papuans beg Jakarta to curb growing violence
  29. Daerah Koversi Dan Biota Laut TNTC Terancam
  30. Diskusi di Milist Tentang Dialog Jakarta Papua
  31. Teologi Bencana - oaseonline.org - Jaringan Teologi Kontextual
  32. Teologia Kontekstual Papua
  33. Papua di Persimpangan Jalan... GKI Sinode Rekomendasikan Papua Merdeka
  34. Angkat Budaya Papua
  35. UIU Update052011
  36. Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan
  37. Yesus dalam Perspektif Melanesia
  38. Para Pemilih dalam PEPERA
  39. 12 Tokoh Papua Bertemu JK 
  40. Pemerintah Diminta Beri Solusi Jangka Panjang
  41. Teologia Bencana
  42. Pergulatan kehadiran Kristen di Indonesia:
  43. Meretas jalan teologi agama-agama di Indonesia:
  44. Dua organisasi kristen menghimbau untuk sidang penodaan agama disudahi 
  45. Agama dalam dialog: pencerahan, pendamaian, dan masa depan :
  46. Dialog versi Cikeas 16 and Dialog versi Istana
  47. Keadilan bagi yang lemah : dipersembahkan kepada Prof. Dr. Ihromi, M.A. untuk memperingati hari jadinya yang ke-67
  48. Lecehkan Gus Dur, ANBTI Minta SBY Jewer Sutan
  49. GEMBALA GEREJA YANG TERSESAT ( By. Ottys Wakum )
  50. Tokoh Gereja di Indonesia Sayangkan Tuduhan 'Ajaran Sesat' dari Beberapa Pihak kepada Pdt Hadassah Werner
  51. Menemukan Wajah Persfektif budaya Papua 
  52. IRIAN JAYA (WEST PAPUA, NEW GUINEA): THE QUEST FOR INDEPENDENCE-June 28-June 29, 2000 
  53. Deiyai: Majalah informasi Agama dan Kebudayaan Irian ... 
  54. Bliksembezoek van "New Papua Network" aan Nederland
  55. Zionis - Mossad Mengancam Papua Barat (Bagian 1) 
  56. Dari perspektif Saksi Ahli : Para Pendakwa sebenarnya merekalah yang menodai kekristenan itu
  57. Dirayakan Sederhana dan Surprise 
  58. Papuans promote interethnic marriages to preserve culture 
  59. Hak-Hak Masalah Adat & Masalah serta Kelestarian Lingkungan di Indonesia
  60. RI ranks world’s worst for religious disharmony 
  61. Merdeka, Harga Diri Di Bumi Cendrawasih 
  62. Kemitraan Bagi Pembaruan Tata Pemerintahan
  63. Dari Koentjaraningrat untuk Dialog Papua 
  64. Daftar Bacaan, Teologi Kontekstual 
  65. Masyarakat Adat, Hak-Hak Dasar Serta Pengharapan
  66. Papua Sejak Dulu Sudah Persoalan Internasional 
  67. The GuardianApril 21, 1999, West Papua: Independence now! 
  68. Indonesia's Catholic churches scrap midnight Mass amid security fears 
  69. Menyambung Sejarah Lama di Kemitraan 
  70. Pesan Paskah Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia th. 2010 
  71. Setia pada panggilan, apapun resikonya 
  72. Christianities in Asia - Page 64 
  73. Peace In Papua: Widening a Window of Opportunity 
  74. Masyarakat Indonesia - Volume 22, Issue 1 - Page 46 
  75. "Quovadis" Negara Pancasila?
  76. [INDONESIA-NEWS] JKTP - Gus Dur Wants Release of Leaders in Irian Jaya
  77. PGI: Hasil Sidang IV PGIW Riau 
  78. Onderzoek naar Papua beschuldiging schending mensenrechten 
  79. Three killed, four injured in Abepura 
  80. Gus Dur wants release of leaders in Irian Jaya
  81. Amazon Buy Book 
  82. Isi di Luar Tanggung ...
  83. Read the workshop report
  84. Papuan Culture and Community 
  85. Establishment of Papuan council runs into more problems  
  86. Irian Jaya Under the Gun: Indonesian Economic Development Versus .. 
  87. Taiwanese Theologian Elected as President of WARC 
  88. Religion and conflict in Indonesia / Edited by Norma Sullivan and Anton Lucas 
  89. Mitologi dalam suku Marind-Anim
  90. Kontekstual Liturgi dalam Seni Budaya Papua
  91. Pdt. Karel Phil Erari : Jakarta Banyak Melecehkan Hak-Hak Dasar Orang Asli Papua 
  92. Rev. Dr. Erari: Jakarta continues to violate the basic rights of the Papuan people 
  93. Erari, Karel Phil - Perpustakaan Unika Atma Jaya 
  94. Statements of Support for Muslim Civil Rights: Interfaith and Government Communities 
  95. PeaceReporter - Tribes in danger 
  96. IN/IRJA: JKTP - Soeharto Inaugurate 
  97. Sudah Waktunya: Rakyat Papua Menentukan Nasib Sendiri 
  98. Persekutuan Kristen Nondenominasi
  99. Pengembangan Papua I Pemekaran Semakin Meminggirkan Penduduk Asli 
  100. The West Papua Conflict in Indonesia: Actos [i.e. Actors], Issues and Approaches 
  101. MENGUAK MISTERI DiSEBERANG GIGA PROYEK MAMBERAMO 
  102. Pemimpin Gereja di Papua “Segani” Presiden RI
  103. ICG - Indonesia: Ketegangan antar Agama di Papua
  104. Review - Regions: FPI Raids Again 
  105. Pepera 1969, Satu ”Manipulasi Sejarah” 
  106.  
  107. DSI Ulama Semarang: Peran Ulama Dalam Penegakan Syariah dan Khilafah
  108. Praktek penggunaan tanah sebagai jaminan kredit
  109. Bersama untuk rakyat - Partnership for Goverment Reform ..
  110. dilimpahkan ke ham pusat
  111. The West Papua Report
  112. International day for the world's indigenous peoples
  113. Ide Separatis Akar Persoalan
  114. Tolak Penutupan Gereja (Politik Energi Temporer)
  115. Pdf  Report
  116. BUKU BARU 2007 
  117. Pesan Paskah PGI Tahun 2012
  118. Kasus HKBP Filadelfia Usik Warga Papua
  119. Amyas 
  120. Dan Seterusnya
Tentang Penulis:
disini: -->

Buku: Pdt. Karel Phil Erari, Pendeta asal Papua, Ketua PGI
  1. Yubileum Dan Pembebasan Menuju Papua Baru: Lima Puluh Tahun Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua 26 Oktober 1956-26 Oktober 2006
  2.  
  3. Keadilan bagi yang lemah : dipersembahkan kepada Prof. Dr. Ihromi, M.A. untuk memperingati hari jadinya yang ke-67 
  4. Supaya engkau membuka belenggu kemiskinan: Dewan Gereja-Gereja di Indonesia dalam trend perkembangan gerakan oikumene dan partisipasi gereja dalam ... selama dasawarsa enam puluhan-tujuh puluhan 
  5. Dari Gunung Karmel ke Mansinam dengan visi untuk Papua baru
  6. Masyarakat adat, tanah dan penegakkan HAM di Irian Jaya : mencari simpul yang terluka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Loading...