Jumat, 30 November 2012

World News : Tuesday Resolution - PALESTINANS CELEBRATIONS

Mahmud Abbas - Pemimpin Palestina
Dubes Palestina: Kami Senang Dunia Bersama Kami
oleh Rochmanuddin; Posted: 30/11/2012 08:47

Liputan6.com, Jakarta : Dubes Palestina untuk Indonesia HE Fariz Mehdawi mengaku senang keberadaan Palestina semakin diakui dunia. Ia pun berharap masyarakat internasional terus mendukung keanggotaan penuh Palestina di PBB.

"Kami senang Dunia berdiri di samping kami pada hari bersejarah ini untuk meningkatkan keangotaan kami dalam komunitas internasional PBB," ujar Fariz di Jakarta, Kamis (29/11/2012) kemarin malam.

Fariz menambahkan makna Hari Internasional Solidaritas ini bagi bangsa Palestina adalah Independent atau Kemerdekaan. Menurutnya harus ada kemederkaan seperti yang diharapkan dunia internasional. Ia pun optimis bisa menjaga hubungan baik dengan negara sahabat lainnya terutama negara Arab.
Mengenai resolusi tentang keanggotaan di PBB, Fariz menambahkan pihaknya bersama masyarakat dunia terus mendorong agar Palestina diakui sebagai negara yang berdaulat. Baik yang di Gaza maupun Yerusalem Timur. Kami tidak bisa berdiri sendiri selama 40 tahun. Kami merasakan banyak kesakitan, tekanan, kebanggaan, kewibawaan.

Ia pun berterima kasih atas dukungan yang selama ini diberikan rakyat Indonesia bagi Palestina. "Terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia, perjuangan ini murni untuk kepentingan kemanusiaan," imbuh Fariz.(ADI). Sumber: Dubes Palestina: Kami Senang Dunia Bersama Kami
Terkait:
29 November, 'Tanggal Keramat' Israel Direbut Palestina
oleh Elin Yunita Kristanti; Posted: 30/11/2012 09:58

Liputan6.com, New York : Tanggal 29 November 2012 menjadi hari bersejarah bagi Palestina. Untuk kali pertamanya ia diakui sebagai sebuah negara, meski belum mendapatkan status keanggotaan penuh di PBB.

Tepat di hari itu, 65 tahun yang lalu. Pada 29 November 1947, PBB juga menyetujui mengakhiri Mandat Britania Raya untuk Palestina. Melalui Resolusi PBB 181 yang didukung 33 negara, 13 negara menolak, dan 10 lainnya netral, tanah Palestina dipecah belah menjadi wilayah untuk Yahudi dan Arab. Yang menjadi cikal bakal berdirinya negara zionis Israel.

Kasarnya Yahudi mendapat 55 persen wilayah dan pihak Arab 45 persen. Orang-orang Arab yang marah lalu memulai perang. Dan kalah.

Kondisi berbalik saat ini. Palestina kembali ke Majelis Umum PBB memperjuangkan kesempatan kedua. Kali ini menang telak. Didukung 138 negara, 41 menyatakan abstain, dan hanya 9 negara yang menentang.

Seperti dimuat Al Arabiya, (30/11/2012), meski membuat pemimpin AS dan Israel malu berat, warga sipil di Israel tak merasa kalah. "Kami guru terbaik bagi warga Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaannya," kata Eitan Haber, kolumnis veteran untuk koran Yediot Ahronot. "Mereka belajar dengan seksama sejarah gerakan zionis," kata dia.

Koreksi Sejarah

Sekelompok aktivis perdamaian Israel mengadakan unjuk rasa hari Kamis untuk mendukung upaya Palestina di PBB. Aksi digelar di depan Museum Tel Aviv, di mana kemerdekaan Israel diproklamasikan Mei 1948 lalu.

"Pemilihan tanggal ini bukan kebetulan. Ini bertujuan untuk mengoreksi kekeliruan sejarah," kata mantan anggota dewan Israel sekaligus aktivis, Mossi Raz. "Enam puluh lima tahun lalu, PBB memutuskan mendirikan negara Yahudi dan Arab .... tapi itu tak pernah terwujud. Dan hari ini kita menyelesaikan keputusan bersejarah itu, dengan pendirian negara Palestina."

Ini juga yang disampaikan Presiden Palestina Mahmoud Abbas sebelum voting dimulai. "Enam puluh lima tahun yang lalu, hari ini, Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi 181, yang memecah tanah Palestina yang bersejarah menjadi dua negara dan menjadi akta kelahiran bagi Israel," kata Abbas.

"Dan hari ini, Majelis Umum terpanggil untuk mengeluarkan akta kelahiran bagi terwujudnya Negara Palestina," kata dia seperti dimuat BBC. Sumber: 29 November, 'Tanggal Keramat' Israel Direbut Palestina

Rakyat Palestina rayakan pengakuan PBB
Reporter : Pandasurya Wijaya; Jumat, 30 November 2012 10:58:56
 
Rakyat Palestina merayakan pengakuan sebagai negara peninjau dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Stasiun televisi Al Arabiya melaporkan, Jumat (30/11), ribuan warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza ramai-ramai berkumpul di jalan. Mereka menembakkan senjata ke udara, mengibarkan bendera Palestina, dan saling berpelukan.

Ketika negara-negara di PBB sedang mengambil suara, ribuan rakyat Palestina berkumpul di Kota Ramallah, Tepi Barat. Mereka terdiam tegang menunggu hasil pemungutan suara. Ketika telah diumumkan Palestina diakui sebagai negara, mereka langsung berteriak gembira sambil meneriakkan takbir dan bernyanyi. "Saya sangat bahagia dengan hasil ini meski hanya kemenangan moral," ujar Rashid al-Kor, 39 tahun.

Laila Jaman, warga perempuan Palestina-Amerika, tampak mengibarkan bendera Palestina sambil mengacungkan foto Presiden Amerika Serikat Barack Husein Obama dan Presiden Palestina Mahmud Abbas. "Rasanya menyenangkan sekali. Sulit dilukiskan dengan kata-kata," kata dia terharu.

Di Kota Bethlehem, kembang api menghiasi langit malam dan gereja-gereja ikut merayakan dengan membunyikan lonceng tengah malam.

Dari 193 negara anggota PBB, sebanyak 138 negara mendukung Palestina menjadi negara peninjau, sembilan menolak dan 41 abstain. Negara seperti Kanada, Israel dan Amerika Serikat paling lantang menolak. Sumber: Rakyat Palestina rayakan pengakuan PBB

Hasil Voting PBB Merupakan Langkah Menuju Kemerdekaan Palestina
Jumat, 30/11/2012 11:40 WIB


New York, - Pemimpin Palestina Mahmud Abbas menyambut hasil voting PBB yang menyetujui peningkatan status Palestina di PBB. Hal ini disebutnya sebagai langkah bersejarah menuju kemerdekaan Palestina.
Namun diakui Abbas seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (30/11/2012), rakyat Palestina masih menghadapi "jalan panjang" untuk mendapatkan negara mereka sendiri. Abbas juga meminta dihentikannya perpecahan dengan kelompok Hamas yang menguasai Gaza.
"Hari ini benar-benar hari yang bersejarah. Hari ini kita telah mengambil satu langkah menuju kemerdekaan Palestina," kata Abbas kepada para diplomat dan jurnalis usai voting Majelis Umum PBB yang mengakui Palestina sebagai negara non-anggota PBB. Sebelumnya status Palestina di PBB hanyalah sebagai "entitas pemantau".

"Di depan kita ada jalan yang panjang dan sulit. Saya tak ingin merusak kemenangan kami malam ini namun jalan ke depan masih tetap sulit," tutur Abbas.

"Kami berkomitmen untuk mencapai hak-hak kami lewat perdamaian dan negosiasi. Kami tak akan takut dan kami akan terus menempuh semua upaya yang mungkin untuk mencapai tujuan kami secara damai," imbuhnya.

Abbas pun mengatakan, perpecahan antara kelompoknya, Fatah dan kelompok Hamas harus dihentikan. "Secara internal sebagai rakyat Palestina, kita memiliki luka, yakni perpecahan dan kini saatnya untuk menyudahi perpecahan itu," tandasnya.

Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, pada Kamis (29/11/2012) waktu setempat, memberikan suara bulat untuk mengakui peningkatan status Palestina di PBB. Kini PBB mengakui status baru Palestina sebagai negara pemantau non-anggota dari status sebelumnya yang hanya sebagai entitas pemantau. Palestina mendapat dukungan mayoritas yakni 138 negara anggota majelis umum PBB. Sementara hanya 9 negara anggota yang menolak dan sisanya, 41 negara menyatakan abstain dalam voting yang digelar. (ita/nrl). Sumber: Hasil Voting PBB Merupakan Langkah Menuju Kemerdekaan Palestina

Kemerdekaan Palestina, Kemenangan Kemanusiaan Melawan Penjajahan.
REP | 30 November 2012 | 14:48
 
Perjuangan rakyat Palestina melawan penjajah Israel mulai berbuah jalan menuju kemerdekaan. Sejarah panjang penjajahan Israel terhadap bangsa Palestina dimulai sejak PBB melalui voting Resolusi nomor 181, pada 29 November 1947, yang kemudian membagi Palestina sebagai bekas jajahan Inggris menjadi dua negara, masing-masing untuk Arab dan Yahudi. Namun, keputusan tersebut ditolak negara-negara Arab dan setelah muncul konflk akhirnya hanya Israel yang diakui sebagai negara enam bulan kemudian.

Sejarah baru perjalanan bangsa Palestina mendapatkan titik cerah, pada tanggal yang sama saat Resolusi Nomor 181 dikeluarkan, yaitu 29 November 2012, Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, memberikan suara bulat mengakui Palestina sebagai sebuah negara. Kini PBB mengakui status baru Palestina sebagai negara pemantau non-anggota dari status sebelumnya sebagai entitas pemantau. Meskipun bukan merupakan anggota penuh sekarang Palestina dapat bergabung dengan badan-badan PBB dan berpotensi bergabung dengan Mahkamah Pidana Internasional. Hal ini merupakan langkah maju diplomasi Palestina untuk memperoleh pengakuan kemerdekaan.

Mendapatkan pengakuan dari dunia internasional atas negaranya, Presiden Palestina Mahmud Abbas dalam pidatonya di Majelis Umum PBB menegaskan bahwa Palestina bersikukuh mendapatkan kemerdekaan dengan Jerusalem Timur sebagai Ibu Kota berikut wilayah yang diduduki Israel tahun 1967. Dan meminta anggota PBB harus segera mengeluarkan akta kelahiran Palestina.

Sedangkan Amerika Serikat, yang konsisten menghalangi keinginan Palestina untuk keanggotaan penuh Perserikatan Bangsa-Bangsa yang diajukan Abbas pada September 2011 lalu, melalui Duta Besarnya di PBB, Susan Rice menentang hasil voting ini. AS masih menolak keberadaan Palestina sebagai sebuah negara.
AS memang.

Pernyataan sinis juga dikeluarkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menanggapi keputusan Majelis Umum PBB, mengatakan bahwa hal ini sebuah resolusi tak bermakna yang tidak mengubah apapun di lapangan. Tidak akan terbentuk Negara Palestina tanpa perjanjian yang memastikan keamanan bagi warga Israel. Dirinya menuding Palestina telah menyalahi kesepakatan dengan Israel karena membawa masalah kedua pihak ke dalam ranah unilateral.

Ada yang membanggakan dalam Sidang Majelis Umum PBB, konsistensi Indonesia dalam mendukung kemerdekaan bangsa Palestina kembali di suarakan. Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa dalam pidatonya yang tegas mengatakan;

“Telah tiba waktunya bagi masyarakat internasional untuk membuat keputusan yang benar. Dunia tidak lagi bisa menutup mata terhadap penderitaan panjang Palestina, pengingkaran terhadap hak-hak dasar manusia dan kebebasan dasar, obstruksi hak-hak mereka untuk menentukan nasib sendiri dan kemerdekaan,”.

“Kami percaya bahwa negara Palestina yang merdeka dengan hak yang sama dan, memang, tanggung jawab yang sama dengan yang dari Negara lain, akan memberikan kontribusi pada pencapaian suatu perdamaian yang abadi dan komprehensif di Timur Tengah,”.

Pidato Marty Natalegawa mengingatkan kita pada Pidato Presiden Soekarno, tahun 1962, “selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel”. Pidato yang membuat kami sebagai masyarakat bangga sebagai anak bangsa, karena secara tegas dalam konstitusi UUD 1945, bangsa Indonesia menolak penjajahan atas nama apapun terjadi dimuka bumi ini

Di Palestina, masyarakat Gaza tumpah ke jalan tak lama setelah Palestina diakui sebagai negara di Sidang Umum PBB. Warga tumpah ke jalan. Sebagian dari mereka membawa mobil dan membunyikan klakson sepanjang perjalanan menuju pusat kota. Bendera kuning Fatah mendominasi jalanan Gaza. Namun tak sedikit pula bendera hijau Hamas berkibar. Selain kedua bendera itu, ada pula bendera warna merah. Tak tampak ada perbedaan, semua warga Gaza larut dalam euforia.

Euforia kegembiraan warga Palestina merupakan perasaan yang sama yang dirasakan oleh seluruh bangsa yang menolak penjajahan atas nama apapun di muka bumi ini. Kemerdekaan sebuah bangsa merupakan hak dasar bagi bangsa tersebut untuk membangun bangsanya menjadi bangsa yang adil, makmur dan berdaulat. Semoga dengan keputusan penting ini akan menjadi babak baru bagi Palestina untuk melakukan rekonsiliasi internal, dalam rangka membangun kembali Palestina sebagai bangsa yang bermartabat. Sumber: Kemerdekaan Palestina, Kemenangan Kemanusiaan Melawan Penjajahan.

KEMERDEKAAN PALESTINA: Liga Arab Anggap Dukungan RI Strategis
Kamis, 29 November 2012 | 07:02 WIB


KAIRO--Liga Arab menganggap dukungan Indonesia bagi Palestina strategis dalam memperjuangan kemerdekaan negara jajahan Israel itu.

"Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia cukup strategis dalam mendukung upaya kemerdekaan Palestina," kata Wakil Sekjen Liga Arab Ahmed Benhelli dalam pertemuan dengan delegasi DPR di Kairo, Rabu (28/11).

Menurut Benhelli, peranan penting Indonesia di Asean juga memiliki nilai strategis dalam menyuarakan Palestina di forum regional dan internasional.

Dalam pertemuan itu, Ketua Delegasi DPR Mahfudz Siddiq menjelaskan misi kunjungannya ke Mesir dan Palestina.

"Kunjungan delegasi DPR ke Mesir dan Palestina ini misi utamanya untuk memperkuat hubungan bilateral," kata Mahfudz yang juga Ketua Komisi I DPR..

Mengenai Palestina, Mahfudz mengatakan parlemen Indonesia terus mendorong pemerintah untuk lebih meningkatkan upaya diplomatik dengan mengintensifkan kontak dengan pihak terkait termasuk Liga Arab.

Di sisi lain, Ketua Kaukus Parlemen untuk Timur Tengah, Komisi I DPR Muhammad Najib, menyinggung perlunya peningkatan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan kawasan Timur Tengah-Afrika.

Dalam kaitan itu, Mahfudz mengemukakan, DPR telah melakukan rapat kerja dengan 13 duta besar Indonesia di negara-negara kawasan Timteng dan Afrika Utara untuk mengetahui sejauh mana potensi kerja sama ekonomi.

"Dalam rapat kerja itu diketahui bahwa potensi kerja sama ekonomi cukup besar, namun belum optimal direalisasikan," ujarnya. (Antara/if). Sumber: KEMERDEKAAN PALESTINA: Liga Arab Anggap Dukungan RI Strategis

Kemerdekaan Palestina untuk Perdamaian Dunia
19 November 2012
 
Konflik Palestina-Israel kembali berkobar, atau lebih tepatnya adalah konflik antara Hamas versus Israel. Korban jiwa dan luka terus bertambah akibat konflik yang meletus sejak hari Rabu kemarin (14/11) itu. Dan jumlah korban diperkirakan akan terus meningkat karena belum ada tanda-tanda kedua belah pihak mau kembali ke meja perundingan. Alih-alih, Israel justru diberitakan akan segera melakukan serangan darat ke Jalur Gaza, wilayah kekuasaan Hamas.

Kebiadaban Israel dalam menyerang orang-orang Palestina yang tak imbang dari segi persenjataan senantiasa mendapatkan kecaman dari banyak pihak, termasuk dari negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam seperti Indonesia. Bahkan negara-negara Barat yang kerap mendukung Israel secara membabi-buta pun tidak jarang menjadi sasaran aksi protes sebagian masyarakat di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Lebih dari pada itu semua, tak sedikit kelompok radikal dan teroris yang bahkan melakukan pelbagai macam aksi teror dengan menargetkan aset-aset asing atas nama membela perjuangan rakyat Palestina. Kelompok-kelompok jihad internasional, contohnya, kerap menegaskan bahwa aksi teror yang dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap kebiadaban Barat dan Israel atas rakyat Palestina.

Harus ditegaskan bersama, Palestina mempunyai hak seutuhnya untuk merdeka dan terbebas dari perbuatan semena-semena Israel. Apalagi pada era modern ini Palestina menjadi “satu-satunya” bangsa yang terjajah di dunia. Kondisi Palestina yang terus dijajah dan dibantai oleh Israel telah menjadi aib bagi peradaban modern yang kerap menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, kemanusiaan dan perdamaian. Bahkan kondisi Palestina yang terus dijajah turut menyebabkan suburnya radikalisme dan terorisme secara global.

Oleh karenanya, sudah sepantasnya bila masyarakat mendukung perjuangan rakyat Palestina sekaligus mengecam tindakan brutal Israel. Tapi hendaknya, dukungan yang ada dilakukan atas nama kebangsaan dan kemanusiaan, bukan atas nama keagamaan. Karena konflik antara Palestina dengan Israel sesungguhnya bukan konflik keagamaan (Islam v Yahudi, apalagi Islam v Kristen). Sebaliknya, di Palestina antara penganut tiga agama samawi di atas senantiasa hidup rukun dan damai (sebagaimana pernah diakui oleh Duta Besar Palestina di Indaonesia kepada Lazuardi Birru dalam sebuah wawancara eksklusif).

Kemerdekaan Palestina akan sangat berpengaruh bagi tegaknya peradaban modern sejati dengan penerapan nilai-nilai luhur tanpa pandang bulu. Harus diakui bersama, selama ini peradaban modern ibarat orang bermuka dua. Di satu sisi, peradaban modern kerap menekankan pentingnya kemanusiaan, perdamaian, demokrasi dan kemodernan lainnya. Tapi di sisi lain, peradaban modern justru membiarkan Palestina diperlakukan secara hina kelana oleh Israel. Seakan-akan rakyat Palestina tidak mempunyai kemanusiaan yang utuh dan tak pantas mendapatkan hidup secara damai dan tentram.

Lebih dari pada itu, kemerdekaan Palestina akan sangat berpengaruh bagi menurunnya aksi radikalisme dan terorisme global. Setidak-tidaknya, bila Palestina telah merdeka, kelompok-kelompok radikal dan terorisme global tak lagi mempunyai alasan melakukan aksi kekerasan atas nama rakyat Palestina. Atas nama kemanusiaan dan kebangsaan, mari kita dukung kemerdekaan Palestina dan kita kecam serangan Israel ke Gaza yang sangat biadab dan melecehkan peradaban modern. (Redaksi) Sumber: Kemerdekaan Palestina untuk Perdamaian Dunia

PALESTINA MERDEKA: Dukungan Indonesia Dinilai Strategis
Oleh Newswire on Thursday, 29 November 2012


KAIRO–Liga Arab menganggap dukungan Indonesia bagi Palestina strategis dalam memperjuangan kemerdekaan negara jajahan Israel itu.

“Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia cukup strategis dalam mendukung upaya kemerdekaan Palestina,” kata Wakil Sekjen Liga Arab Ahmed Benhelli dalam pertemuan dengan delegasi DPR di Kairo, Rabu (28/11/2012).

Menurut Benhelli, peranan penting Indonesia di Asean juga memiliki nilai strategis dalam menyuarakan Palestina di forum regional dan internasional.

Dalam pertemuan itu, Ketua Delegasi DPR Mahfudz Siddiq menjelaskan misi kunjungannya ke Mesir dan Palestina.

“Kunjungan delegasi DPR ke Mesir dan Palestina ini misi utamanya untuk memperkuat hubungan bilateral,” kata Mahfudz yang juga Ketua Komisi I DPR.

Mengenai Palestina, Mahfudz mengatakan parlemen Indonesia terus mendorong pemerintah untuk lebih meningkatkan upaya diplomatik dengan mengintensifkan kontak dengan pihak terkait termasuk Liga Arab.

Di sisi lain, Ketua Kaukus Parlemen untuk Timur Tengah, Komisi I DPR Muhammad Najib, menyinggung perlunya peningkatan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan kawasan Timur Tengah-Afrika.

Dalam kaitan itu, Mahfudz mengemukakan, DPR telah melakukan rapat kerja dengan 13 duta besar Indonesia di negara-negara kawasan Timteng dan Afrika Utara untuk mengetahui sejauh mana potensi kerja sama ekonomi.

“Dalam rapat kerja itu diketahui bahwa potensi kerja sama ekonomi cukup besar, namun belum optimal direalisasikan,” ujarnya. (if/juanda). Sumber: PALESTINA MERDEKA: Dukungan Indonesia Dinilai Strategis

Palestinians celebrate expected victory at U.N.
Thousands gather across the West Bank and Gaza tor support attempts by Mahmud Abbas to secure upgraded UN status.
By Edmund Sanders; November 29, 2012, 11:12 a.m.

RAMALLAH, West Bank -- Keeping hopes high and expectations low is a strategy Palestinians have used for decades to get through the ups and downs of their statehood campaign. Such sentiments were on full display here Thursday.

As Palestinian Authority President Mahmoud Abbas prepared for a landmark United Nations vote on whether to upgrade the status of Palestinian territories from “entity” to “state,” thousands of people gathered in Ramallah and other West Bank cities to celebrate what is expected to be a rare diplomatic victory. The final vote was expected to take place in New York later Thursday.

The crowds were a bit smaller and the excitement levels a little lower than the last time Palestinians went to the world body in September 2011 in their failed attempt to win U.N. membership.

But there were still plenty of Palestinian flags, impassioned speeches, street vendors selling lupini beans and a giant-screen television in downtown Ramallah to watch Abbas make his case to the international body.

Even as they danced in the streets during the day’s festivities, Palestinians acknowledged that their struggle for statehood is far from over. But they expressed hope that the vote would bring them a little closer.

“This will strengthen our position, as a people and as a country,’’ said Sahar Safi, 30, a Palestinian refugee from Amman, Jordan, seated in Arafat Square in Ramallah with two young nieces with their faces painted with Palestinian flags. “Now if Abbas wants to negotiate, he’ll have more power.”

Mohamed Yousef, 25, a Ramallah barber, said Palestinians realize that the vote is only a small step.

“We’ve been waiting for this moment for a long time,’’ he said. “But we should not expect that just because we won the vote that the occupation will end. We still need the settlers to leave, prisoners to be released and refugees to come back.”

He said the recent Gaza Strip conflict between Israel and the Islamist militant group Hamas emboldened and inspired many Palestinians in the West Bank to stand up to Israel. He said he hoped the two Palestinian factions would reconcile.

“Arafat used to say that he had an olive branch in one hand and a gun in the other,” Yousef said. “Abbas is our olive branch and Hamas is our gun.”

Ambulance driver Palal Eid, 50, said Palestinian statehood is long overdue.

“We hope this is a turning point,’’ he said. “I’m 50 and I’m still waiting for a state. My father lived to 88 and never saw one.”

Omar Khuffash, 47, who works for a Palestinian housing agency, said Abbas should turn to the international community.

“We’ve had worthless negotiations for 20 years,’’ Khuffash said. “We should forget about Israel and use the U.N. Unless we have assurances from the world, we will never achieve anything from negotiations.”

But then he shrugged and said he believed the international body has also failed Palestinians. “We’ve seen U.N. resolutions for 65 years about human rights, refugees, international law and nothing is ever implemented.”

In a rare scene in Gaza Strip, Hamas officials allowed rivals from Abbas’ Fatah Party to march in the streets to show their support for the U.N. bid. Speeches by Fatah leaders in the West Bank city of Nablus were broadcast on large TV screens in Gaza.

“This sends a clear message to all in the world who love truth and justice that the Palestinian people stand united,’’ said Abu Joda Nahal, a Fatah leader in Gaza. Sumber: Palestinians celebrate expected victory at U.N.

65 Years Later, Palestinians Celebrate a UN Vote
By By ARON HELLER and DAN PERRY Associated Press
JERUSALEM November 29, 2012 (AP)


The black-and-white photos show masses of people yearning for independence, celebrating a vote recognizing a state in Palestine. It was a day that generations of pupils would be taught to remember with reverence: Nov. 29.

The jubilant revelers were Jews, the year was 1947, and the vote was held in the United Nations General Assembly. The Palestinians rejected the partition plan, which called for Jewish and Arab states to be established after the imminent expiration of the British rule over Palestine. The outraged Arabs soon started a war they eventually lost.

Sixty-five years later to the day, the tables are somewhat reversed: Palestinians have turned to the General Assembly for a second chance — and it is the Israelis who have dismissed the vote, which resoundingly upgraded the Palestinians' U.N. status, as a symbolic trifle.

The irony of the date was not lost on the Israelis.

"We are the best teachers of the Palestinian people in their struggle for independence," wrote Eitan Haber, a veteran columnist for the Yediot Ahronot daily. "They have studied carefully the history of the Zionist movement."

While it's true that Thursday's vote won't immediately create a state of Palestine, it will give the Palestinians a boost, elevating their status from U.N. observer to nonmember observer state — like that of the Vatican. The resolution upgrading the Palestinians' status was approved by a vote of 138-9, with 41 abstentions, in the 193-member world body.
Mideast Israel Palestinians UN Redo.JPEG
AP
FILE - In this Nov. 30, 1947 file photo,... View Full Caption

Anton Salman, a resident of the Palestinian city of Bethlehem in the West Bank, said he hoped international recognition will mark the beginning of a new period that "will begin to build a real state and to recognize our identity as a people with a state and land."

The vote recognizes a Palestinian state in the West Bank, Gaza and east Jerusalem, the lands Israel captured in the 1967 Mideast war. This represents far less territory than the Palestinians were offered on Nov. 29, 1947, when the U.N. General Assembly passed Resolution 181.

Palestinian President Mahmoud Abbas, in a rare moment of candor, admitted in an Israeli TV interview last year that the Arab world erred in rejecting the plan. "It was our mistake. It was an Arab mistake as a whole," he said at the time.

Resolution 181 called for the partition of the British-ruled Palestine Mandate into a Jewish state and an Arab state: 33 countries voted in favor, 13 against and 10 abstained.

The resolution was accepted by the Jews of Palestine and set off jubilant celebrations. In a whiff of nostalgia, Israeli TV on Thursday aired grainy footage from that day of people dancing in the streets. Israeli radio interviewed Israeli seniors about their recollections from that day.

It was a strikingly different Israel from today — a place where only several hundred thousand Jews lived, most of them European. Their suits and hats were more suited to Vienna than to the Middle East. Few back then would have imagined the Israel of today — much more Middle Eastern yet also heavily influenced by America, prosperous and powerful beyond the imaginations of most of the revelers of 1947.

After the vote, ecstatic Palestinians in Ramallah and other West Bank towns waved flags, danced in the streets and set off fireworks.

A group of Israeli peace activists held a rally Thursday to support the Palestinian bid in front of the old Tel Aviv Museum, where Israel's independence was declared in May 1948.

"The choice of date is not accidental. It's aimed at correcting a historical mistake," said Mossi Raz, a former Israeli lawmaker and veteran activist. "Sixty-five years ago, the United Nations decided to establish a Jewish state and an Arab state ... but it never happened. Today we are completing a historic decision with the establishment of Palestine." Follow Dan Perry at https://twitter.com/perry—dan Sumber: 65 Years Later, Palestinians Celebrate a UN Vote

Palestinians celebrate UN statehood vote
Published on Thursday November 29, 2012
RAMALLAH—Celebratory gunfire rang out over Ramallah’s Yasser Arafat Square on Thursday and more than a thousand residents and Palestinian Authority security forces danced and cheered as the United Nations voted overwhelmingly to admit Palestine as a non-member observer state.

The well-choreographed euphoria among a sea of waving Palestinian flags was the culmination of a day of officially organized celebrations. Students and government workers were given the day off and encouraged to take to the streets across the West Bank.

All political factions were reportedly celebrating in the streets of Gaza City after Gaza’s Hamas government endorsed the move by rival Fatah leader and Palestinian Authority President Mahmoud Abbas to upgrade the Palestinians’ international status.

Hamas opposed last year’s statehood bid at the UN, but this month’s eight-day conflict between Israel and Hamas has contributed to a shift in Palestinian politics.

During the conflict, which killed more than 160 Palestinians in Gaza and five Israelis, Hamas demonstrated in the streets of Ramallah for the first time since 2008.

With Hamas widely perceived as having repelled an Israeli attack, support for the group has been growing. And amid skepticism of the PA’s approach to negotiations, which has few tangible results, Abbas has been focusing on national reconciliation.

Support for the UN bid from all Palestinian political factions is seen locally as the first step to reconciling the split between Hamas and Fatah, which lost control of Gaza to Hamas in 2007.

“The (latest) war on Gaza showed all the factions need to provide a united platform, as no faction can stand alone — whether it is armed resistance or diplomacy,” said PA spokeswoman Nour Odeh. “This bid translates into diplomatic action.”

Away from the blasting Palestinian national ballads and booming speeches, Thursday’s hype was taken with a strong dose of skepticism.

“The (Palestinian) Authority needs to make the people say ‘wow,’ like Hamas did in Gaza,” says Hussain Zahouri, a young graphic designer playing backgammon in a popular Ramallah coffee shop. The celebrations, he said, are “all political propaganda for the PA. They are creating a show.”

While many Palestinians share his cynical outlook on their leadership, the UN bid is widely supported.

“I am not a fan of Abbas but I support this move,” says Nasser Hourani, a middle-aged advertising company owner sitting across the backgammon board from Zahouri.

Both agree that the recognition — which gives Palestine the same UN status as the Vatican — will give Palestinians more tools to pressure Israel with, especially access to the International Criminal Court. Sumber:
Palestinians celebrate UN statehood vote
ALSO ON THESTAR.COM
- Palestinians celebrate UN statehood vote
- Opinion: Stephen Harper out of step on Israel and Palestine
VIDEO:
  1. Indonesia Desak Gerakan Non-Blok Dukung Palestina Merdeka
  2. SBY Dukung Kemerdekaan Penuh Palestina
  3. RENUNGAN | 62 TAHUN DERITA PALESTINA: SAMPAI KAPAN.?
  4. Posisi Obama Dalam Isu Israel-Palestina - Liputan Berita VOA 19 Nov 2012 
NDP, Tories clash over Palestine:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Loading...