PERPECAHAN SUATU GERAKAN REVOLUSI DISEBABKAN PERSAINGAN TRASEHAT & RENDAHNYA
PENGETAHUAN KESADARAN BERBANGSA
Oleh:
WPapuani
Perasaan Iri, dengki,
marah, dan emosional merupakan dinamika sospol berevolusi yang dimana bila
situasi tersebut ditempatkan pada posisi yg wajar, akan memberikan dampak
positif dan kemajuan suatu gerakan, namun bila sebaliknya seorang revolusioner
membentuknya menjadi PEMICU PERPECAHAN,
maka cita2 luhur bersama akan terhambatan. Beberapa hal dikemukakan diatas,
dapat dipicu oleh perbedaan pendapat&wawasan setiap revolusi. Para revolusioner
yang merupakan motivator dan securiti suatu gerakan, akan berbenturan bilamana
prinsip2 revolusi itu ditepis&tidak dipahami secara baik karena berujung
pada perpecahan pasukan yg mampu menghambat perjuangan.
Contoh kasus dalam perjuangan
orang/organ2 rakyat Papua Barat yang bila diamati secara baik, merupakan suatu
perjuangan konseptualitas. Bagaimana seorang revolusioner mempertahankan konsep
dengan menggandeng setiap massanya. Hal ini cenderung membuka jurang perbedaan didalam
berevolusi.
PB yg berada di Exile
maupun didalam negeri, budaya duduk carita sesama memberikan pengaruh yg negativ
dan disitulah keretakan perjuangan persatuan terjadi. Perjuangan PB tidak hanya
berhadapan dengan lawan yang selalu melakukan inviltrasi diberbagai lini
gerakan, namun sesama perjuang saling berlawanan arah, merupakan reaksi
daripada efek perpecahan PB utk merdeka.